Makam Sunan Cempo Ini Ada di Tengah Sawah Klaten, Siapa Dia?

Klaten – Di tengah persawahan Dusun Desen, Desa Brangkal, Kecamatan Karanganom, Klaten, Jawa Tengah ada empat makam tua. Kompleks kuburan kuno itu dikenal warga sebagai makam Sunan Cempo.
Kompleks makam Cempo tersebut tidak seperti petilasan tokoh pada umumnya. Maka itu berada di barat sawah Dusun Desen, tepatnya di tepi jalan desa dengan sawah yang mengelilinginya.

Tidak ada tembok tinggi atau tangga berundak untuk menuju ke kompleks makam. Mengunjungi kompleks makam itu cukup melintas di jalan desa yang sudah dicor semen.

Tiga pohon kepuh dan beringin tua yang berbatang besar menyambut warga yang datang ke lokasi. Terdapat joglo berlantai keramik di bawahnya yang belum lama ini dibangun.

Di tepi jalan, terdapat satu kuburan panjang sekitar 1,5 meter dengan nisan batu andesit berbentuk persegi mirip konblok. Di nisan bagian atas, batu andesitnya bergerigi tiga.

Makam tersebut tidak ada cungkup tetapi hanya dikelilingi plesteran batu bata dan semen. Di sisi utara kuburan itu terdapat bangunan rumah makam (cungkup) cukup besar berukuran 6×3 meter bercat putih yang kini tampak kusam.

Di dalamnya terdapat tiga makam kuno berbahan batu dengan ukuran sekitar 2 meter. Nisan ini didominasi motif gerigi dengan hiasan batu berbentuk setengah kelopak bunga tanpa tulisan.

Di tepi jalan terdapat tembok yang dibuat menyerupai taman. Terdapat tulisan ‘Tirta Wukir Gapuraning Jagat, Makam Keramat Eyang Sunan Cempo’.

Sesepuh Dusun Desen, Lasiman (60) mengatakan menurut cerita tutur turun-temurun, kompleks makam itu sejak dulu disebut makam Sunan Cempo. Tokoh tersebut merupakan sosok ulama.

“Orang menyebut Sunan Cempo, trah Majapahit dan ulama, penyebar agama Islam. Ada empat makam tapi satu di luar cungkup,” sebut Lasiman pada detikcom, Minggu (22/8/2021).

Lasiman menyebut makam Sunan Cempo dan istri beserta keluarga ada di dalam cungkup. Sedangkan bagian luar merupakan makam para pengawalnya.

“Yang di luar itu pengawal, yang dalam itu Sunan Cempo, itu makam kakung-putri (laki dan perempuan). Dulu tiap Jumat ada pasar di dekat lokasi, ramai dulunya,” papar Lasiman yang juga mantan ketua RW Desen ini.

Lasiman menyebut para pedagang di sekitar lokasi bahkan tidak mempermasalahkan jika dagangan mereka tidak laku karena disambi dengan tirakat. Namun, saat ini sudah tidak ada lagi aktivitas jual beli di lokasi tersebut, dan pada malam Jumat kini banyak yang berziarah ke lokasi.

“Malam Jumat Legi biasanya ramai pada berbincang di lokasi setelah nyekar. Sejak saya kecil, nenek dan mbah mbah buyut saya, kuburan juga begitu,” terang Lasiman yang rumahnya berada di timur makam.

Sumber : detik